Pages

Showing posts with label litbud. Show all posts
Showing posts with label litbud. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

"Nabi" Para Sastrawan

"Al Mutanabbi (915-965)"

👉  Abu Tayyib Ahmad bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar Al Ju’fi Al Kufi, dilahirkan di Kindah, kufah , Irak pada tahun 303 H/ 915 M. Nama al-ju’fi diambil dari nama kakeknya Ju’fi bin Sa’ad, sedangkan sebutan al-Kufi merujuk pada kampung halaman tempat dia dilahirkan, akan tetapi ia kerap dikenal dengan nama Abu Tayyib al-Mutanabbi atau hanya disebut al-Mutanabbi.
👉   al-Mutanabbi sendiri bukanlah berasal dari pemberian orang tuanya, namun nama ini diberikan oleh orang orang lain sejak mudanya, dari sinilah muncul berbagai versi yang mengakibatkan kontroversi di kalangan masyarakat. Sebagaimana disebutkan, secara leksikal kata “al-Mutanabbi” berarti orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi. Tetapi menurut seorang ahli sejarah (Imam al-Khatib al-Baghdadi) mengatakan bahwa Abu Tayyib yang tak lain adalah al-Mutanabbi digelari Al Mutanabbi karena berasal dari keturunan keluarga Alawi Hasani (Keturunan Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib) dan kemudian mengaku sebagai Nabi, pengakuan ini dibuatnya ketika dia menetap di Kalb sebuah kampung di Syria, tetapi setelah diteliti, ternyata pengakuan ini tidaklah benar.
👉 Menurut pakar bahasa dan ahli sastra Arab, Ibrahim al-Yajizi, cerita dan kisah di atas tidak benar dan tidak berdasar. Untuk membuktikan hal ini al-Yajizi kemudian mengumpulkan semua syair syair al-Mutanabbi dalam sebuah buku berjudul “Diwan al-Mutanabbi” yaitu kumpulan syair-syair al-Mutanabbi.
👉 Ibrahim al-Yajizi menyatakan bahwa Abu Tayyib Ahmad digelari al-Mutanabbi tidak lain dan tidak bukan adalah karena syair yang diciptakan dan dilantumkannya sangat membuat kagum para pendengarnya, dengan kata lain bait bait kalimat yang dituangkan dalam Qasidahnya (syair) merupakan kalimat kalimat yang diberikan kemukjizatan. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat al-Tsa’labi yang menyatakan bahwa sejak kecil Abu Tayyib Ahmad telah menunjukan kemampuan dan kelebihannya yang besar dan dia mampu mengungkapkan kata dan syair yang sangat mengagumkan para pendengarnya.

#LITBUD
#ARABPEDIA
#IMASASIJABODETABEK
#HUMAS

Sunday, May 28, 2017

syaikh Khalil bin Ahmad al-Farahidi


Abu Abdirrahman Al-Khalil bin Ahmad bin 'Amru bin Tamim al-Farahidi al-Azadi al-Yahmadi ( أبو عبد الرحمن الخليل بن أحمد بن عمرو بن تميم الفراهيدي الأزدي اليحمدي) atau lebih dikenal dengan Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (lahir di Basra, 100 H/718 wafat di Basra, Jumadal akhir 173 H/789) adalah seorang ulama dibidang bahasa Arab, sastra Arab, dan juga penemu ilmu persajakan Arab, yang ia ambil dari musik karena ia ahli dalam bidang tersebut. Ia mempelajari berbagai ilmu dari Ibnu Abi Ishaq yang merupakan guru dari Sibawaih
Syaikh Kholil mendapatkan ilham (inspirasi) untuk menyusun ilmu ‘Arudh ketika beliau ada di kota Makkah. Hal ini disinyalir pemberian nama ‘Arudh karena ada unsur tafa’ul atau melihat adanya pertanda baik dengan Ka’bah yang ada di tengah-tengah (arab: ‘Arudh) kota Makkah.
Dalam sebuah referensi dijelaskan bahwa yang mendorong Imam Kholil untuk mendalami ilmu tersebut adalah bahwa pada suatu ketika orang-orang arab mulai berpaling meninggalkan Imam Kholil, dan belajar kepada muridnya yang bernama Imam Sibaweh. Keberadaan Imam Kholil seakan-seakan tidak lagi diperhitungkan oleh masyarakat waktu itu.
Peristiwa ini membuat Imam Kholil tergugah untuk menyendiri dan menyepi, memohon kepada Allah swt. agar dikaruniai sebuah ilmu yang tidak pernah dimiliki orang lain. Do’a beliau akhirnya dikabulkan oleh Allah. Imam Kholil pun kemudian menemukan rahasia-rahasia dalam sya’ir arab yang waktu itu merupakan primadona di kalangan masyarakat arab. Beliau menemukan lima belas  kaidah pokok dalam sya’ir arab yang pada gilirannya dikenal dengan istilah bahar. Kaidah pokok ini kemudian disempurnakan oleh murid beliau yang bernama al-Akhfasy, sehingga menjadi enam belas sajak.
Referensi lain menyebutkan bahwa beliau mengadakan penelitian adalah karena ia melihat bahwa para penyair modern pada masanya ini mulai keluar dari wazan-wazan Arab yang ada, adakalanya wazan-wazan lama itu dikurangi dan ditambahi, bahkan sebagian mereka ada yang menciptakan wazan baru yang tidak pernah didengar sama sekali oleh orang Arab. Setelah melihat demikian maka ia mulailah berpikir untuk meletakkan aturan-aturan dasar di dalam sya’ir Arab.
#LITBUD
#IMASASIWIL3
#ARABPEDIA